Tidak terasa sudah 2 tahun aku di bumi Banjar ini. Tidak terasa ?? Yang benar saja.. Sebenarnya terasa juga sih, apalagi saat menghitung hari pulang kampung
heuheuheu
Tapi… banyak hal yang aku dapat dari sini, sangat sangat banyak. Senang rasanya bisa mengenal bahasa selain bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, mengenal kebudayaan selain kebudayaan jawa, dan pastinya.. (ini nih yang penting) bisa mencicipi makanan khas selain makanan jawa, langsung dari asalnya.
Mumpung lagi laper, jadi semangat mau cerita…
1. Udang Galah

Foto ini saduran dari (musliminpekalongan.blogspot.com), belum sempat foto-foto di pasar
tapi ini miriiiip banget sama suasana bedak-bedak penjual udang di pasar tradisional banjar.
Udang galah, dulu cuma pernah dengar namanya. Pikirku, masih satu rumpun sama lobster dan hidupnya di laut. Ternyata tidak, mahluk lezat satu ini banyak berkeliaran di sungai-sungai kalimantan. Kabarnya di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat populasinya semakin sedikit, berbeda dengan Kalimantan Selatan. Mungkin disini udang-udang lebih semangat kawin kali ya
Di pasar tradisional, banyak sekali ditemui penjual udang galah. Dulu sempat pernah makan mahluk satu ini di rumah makan di Jawa Timur, waktu itu di bakar bumbu merah. Ukuran udangnya tidak terlalu besar dan cuma satu ekor. Harganya sekitar 40 ribu ke atas. Dan believe it or not, disini untuk yang sudah matang dan dimasak goreng, satu ekor besaaarr harganya paling mahal 20 ribu doang !! Baiklah, sikaaatt !!
Ini versi matangnya yang sudah digoreng. Banyak dijual di Martapura. Itu udang yang ukuran kecil makanya dikasi dua, biasanya satu porsi isinya satu dan guedenya mintak ampun. Setelah makan, berasa jadi udang
Satu porsi biasanya di sajikan dengan sambal , lalapannya ada daun singkong rebus, daun kangkung rebus, terong belanda rebus, dan timun yang di iris tipis. Kalau satu porsi dengan nasi biasanya di bandrol 30 ribuan disini.
Waktu dinas beberapa hari lalu ke Kota Asam-Asam, ada jamuan makan dari kantor cabang dan sempat mencoba udang galah bakar. Wuiiihhh mantap !! Tapi tapi… belum sempat foto-foto karena waktu itu terlalu bersemangat makan jadi lupa ambil hape untuk foto heuheuheu, silahkan searching di pak de google yah.. *jadi ngiler inget rasanya
Oiya, istimewanya mahluk satu ini dibanding udang lainnya. Selain enak, dia hidupnya di air tawar. Jadi buat yang setelah makan udang timbul bentol-bentol di kulit, makan udang galah cukup aman karena tidak bikin alergi. Try It !!
2. Sea Food
Banjarmasin kaya dengan hasil lautnya. Lebih kaya lagi, hasil laut pedalaman Kalimantan Selatan. Seperti, Pelaihari dan Kotabaru. Disana belum banyak dijamah orang, padahal hasil lautnya melimpah ruah dan pemandangan pantainya masih bagus.
Perjalanan pulang ku sehabis dinas ke kantor cabang Kotabaru, setelah 8 jam rasanya tulang punggungku rontok
dan akhirnya berhenti pada salah satu penjual seafood di pinggir jalan. Sepanjang jalan tadi, rasanya hasrat ingin membeli kepiting ku muncul. Bagaimana tidak, melihat gundukan-gundukan kepiting dipajang banyaaakkk sekali seperti barang obralan.
Kaget juga, waktu aku tanya ternyata harga kepitingnya 25.000 satu kilo. Padahal itu kepiting telur yang sudah lumayan super lah. Setelah aku tawar, harganya turun jadi 22.500 *Yeyy!! biasa wanita!! 8) Dan… langsung aku beli 4 kilo, karena besok paginya aku pulang ke jawa dan orang jawa sudah pada heboh nitip-nitip karena murahnya kepiting-kepiting itu. Jadilah pesta kepiting di Malang
Olahan seafood disini macam-macam, ada kepiting bakar, kepiting asam-manis, kepiting saos padang dan lainnya. Untuk ikan-ikan nya ada ikan kakap merah, kerapu, dan lainnya. Sudah tentu, harga seafood sangat merakyat sekali disiniiii
Ini kepiting bakar di salah satu ‘tempat makan’ Seafood di Banjarmasin
Ikan kakap merah bakar di salah satu ‘tempat makan’ di Kotabaru
3. Ketupat Kandangan
Ketupat kandangan versi Kotabaru
Makanan yang satu ini berasal dari Kota Kandangan Kalimantan Selatan, kira-kira 2 jam dari Kota Banjarbaru. Lebih mungkin, entahlah waktu itu aku tertidur hehehe. di Kota Kandangan, selain ketupatnya juga terkenal dodol nya, di postingan berikutnya yah…
Pertama kali aku mencoba, rasanya 11 : 12 dengan ‘Lodeh Kutuk Blitar’. Bedanya, kl lodeh kutuk blitar itu lebih pedas, cabe rawitnya dimana-mana, ada potongan daun kucai, daun salam dan jaun jeruk. Kalau ketupat kandangan, santan polos dengan bumbu yang sudah menyatu di dalamnya dan tidak pedas karena sambalnya dibuat terpisah.
Lauknya adalah ikan gabus, di Banjar disebut ‘Ikan Haruan’ sedang di jawa biasa dikenal ‘Ikan Kutuk’. Menurutku, ketupat di Banjar berbeda dengan ketupat di jawa. Dan ikan nya bukan digoreng atau direbus melainkan di asap, jadi berguna juga untuk menghilangkan amisnya.
Di jawa, ketupat dibungkus dengan janur kuning, daun kelapa yang masih muda. Kalau di Banjar, bukan dengan janur kuning melainkan daun kelapa yang sudah tua.
Bedanya lagi, di jawa ketupat dibuat dengan beras yang pulen sehingga hasilnya lengket-lengket gimana gitu efek beras pulen tadi. Kalau di Banjar, menggunakan beras banjar yang ‘kemepyur’ alias rontok-rontok (aku ngomong apa yah ini ?? @_@). Jadi kalau ketupatnya dibelah dengan sendok, nanti hasilnya seperti gumpalan nasi (apa lagi ini ??) pokoknya begitulah
Sekian dulu yang part 1 ini, kalau membicarakan makanan aku paling semangat bisa-bisa satu hari saja tidak cukup. Disambung ke part 2 nya yah.. *sambil ngumpulin foto-foto



